Nugroho Dwis Sugiharto

Cewek Jogja, Cewek Murahan?

Cas Cis Cus    5 August 2012    -
Sebelum saya masuk di kota pelajaran Yogyakarta ini pernah saya mendengar orang berkata, "Neng Yogjo kui pergaulane wes rusak, kudu ati-ati neng kono", yang artinya kurang lebihnya adalah, "Di Jogja itu pergaulannya sudah rusak, harus hati-hati disana". Kalau dulu saya belum banyak memikirkan hal tersebut, karena saat saya mendengar hal tersebut belum terbesit didalam hati untuk menuntut ilmu disini.Setelah saya disini, saya sudah merasakannya sendiri, merasakan keadaan sesungguhnya di kota pelajar, kota gudeg dan kebudayaan ini. Dan ternyata pernyataan tersebut tidak salah dan juga tidak semua benar. Memang di kota ini saya sering mendengar cerita dari seorang teman bahwa kosnya yang dulu dijadikan kos esek-esek. Gimana tidak, kos tersebut dihuni oleh cewek dan cowok, tidak ada pembatas maupun pemisah.[caption id="attachment_711" align="alignleft" width="300"] Soimah | Foto dari detikfoto[/caption]Menurut teman saya dia sering melihat seorang pria yang keluar masuk kamar cewek dan setelah seorang cowok masuk terdengar suara kegaduhan, suara jeritan dan suara-suara kenikmatan yang lain. Hemm... apakah sudah sebegitunya di Jogja ini? Parahnya lagi tidak hanya satu cowok saja, tapi cowok lain pun terkadang masuk kamar cewek tersebut.Memang untuk kalangan anak muda perantauan dalam memilih tempat menginap mereka lebih senang memilih tempat yang bebas malah kalau bisa sebebas-bebasnya, meskipun harga yang ditawarkan lebih mahal daripada kos biasa. Memang memilih kos yang bebas ada enaknya tapi sayangnya hal ini sering dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang ingin mencari "kebebasan" yang lebih.Pemkot dan warga apakah diam saja? Jawabannya tentu tidak, Pemkot sering menugaskan satpol PP untuk merazia tempat-tempat kos yang disinyalir sering dijadikan tempat-tempat mesum. Tidak jarang petugas menemukan pasangan muda mudi yang sedang bermesraan dikamar, dan tentunya pasangan bukan muhrim tersebut langsung digelandang ke kantor untuk didata dan dibina. Tapi sayang hal ini tidak menyurutkan aksi-aksi ini, malah kalau saya rasakan malah semakin menjamur.Tapi... Apakah iya semua cewek Jogja tingkahnya binal, dan bispak semua? Jawabannya ya tentu saja tidak. Sudah hukum dunia yang selalu ada keseimbangan, dimana ada kebatilan pasti ada kebaikan juga. Cewek Jogja yang saya kenal dan sekaligus menjadi teman kampus saya malah tidak indikasi mengarah ke cewek Jogja negatif, banyak diantara mereka yang malah berjilbab.Jadi intinya adalah dalam menyikapi suatu hal jangan selalu menjeneralisasi semua hal, seperti halnya cewek Jogja, karena beberapa oknum yang mengkomersilkan istilah cewek Jogja untuk dijadikan daya tarik bisnis esek-esek baik langsung maupun tidak menimbulkan dampak negatif untuk cewek-cewek Jogja yang baik-baik.Nah yang terakhir adalah.... semoga dengan artikel ini semoga keyword cewek Jogja akan kembali bersih :).

KOMENTAR ()